Foto : Ist- Tampak dari latar luar Rumah Sakit Harapan Bunda Megah, ternyata pelayaan pesien cukup Bobrok pasien berobat kecewa yang diberikan petugas Informasi.( R/ Dok : Indralis- OpuNg)
Seraya. – ( BATAM Expose.Com). ————- ! Alih-alih mendapatkan perawatan yang layak, pasien justru pulang dengan hati panas dan rasa kecewa mendalam.
Itulah yang dialami oleh IN (60) tahun, pasien yang datang dengan penuh harapan untuk berobat ke Spesialis Mata di RS Harapan Bunda, namun justru dipermainkan oleh sistem dan pelayanan yang jauh dari kata profesional.
Berbekal surat rujukan resmi dari Klinik Casa Medikal Utama, IN mendatangi RS Harapan Bunda pada Senin, 12 Agustus 2025, sesuai prosedur.
Namun langkah pertama sudah berbuah hambar: petugas pelayanan mengarahkan agar ia mendaftar ke JKN, lalu menyampaikan kabar mengejutkan — kuota pasien mata sudah “penuh” dan dibatasi hanya 20 orang per hari.
“Cuma 20 orang batasnya,” ujar petugas informasi, seolah angka itu hukum mutlak yang tak bisa diganggu gugat, tanpa penjelasan mengapa pasien rujukan tak mendapat prioritas.
IN tak menyerah. Sesuai saran petugas, ia diminta datang kembali pada Rabu, 14 Agustus 2025.
Namun, lagi-lagi harapannya dihempaskan.
Hari itu, dokter spesialis mata sedang melakukan operasi dan tidak menerima pasien berobat sama sekali.
Pasien pun diarahkan untuk datang keesokan harinya.
Mengikuti instruksi, IN hadir kembali pada Kamis sore, 14 Agustus 2025 pukul 16.00 dengan membawa semua berkas, bahkan mendapatkan nomor antrean 3. Namun, ironisnya, ia kembali ditolak mentah-mentah.
Alasannya? “Bagian mata sudah penuh.” Tidak ada penjelasan logis, tidak ada empati, dan tidak ada solusi yang ditawarkan.
Merasa dipermainkan, IN pun memilih pulang dengan perasaan kesal dan kecewa.
“Kalau memang tidak mau terima pasien, jangan suruh datang berkali-kali.
Waktu saya, tenaga saya, semuanya terbuang percuma,” keluhnya.
Kasus ini membuka tabir buruknya sistem pelayanan di RS Harapan Bunda yang justru membebani pasien, bukan mempermudah.
Di tengah gembar-gembor pemerintah soal pelayanan kesehatan yang ramah dan cepat, kenyataan di lapangan menunjukkan wajah lain: pasien harus berputar-putar mengikuti arahan petugas yang berubah-ubah, hanya untuk berakhir dengan kata “penuh” tanpa solusi.
Pertanyaannya, apakah RS Harapan Bunda sudah terlalu nyaman menolak pasien? Apakah alasan “kuota penuh” menjadi tameng untuk menutupi ketidak mampuan manajemen mengatur jadwal dokter dan beban kerja? Ataukah pasien BPJS dan rujukan kini dianggap beban ketimbang prioritas?
Di tengah maraknya kritik publik terhadap pelayanan rumah sakit, kasus IN menjadi potret kecil dari masalah besar: pelayanan kesehatan yang tidak manusiawi.
RS Harapan Bunda, yang seharusnya menjadi tempat memberi harapan dan pertolongan, justru berubah menjadi simbol kekecewaan.
Publik tentu menanti klarifikasi dan perbaikan nyata dari pihak manajemen RS Harapan Bunda.
Bukan sekadar alasan klise atau janji manis, tetapi langkah konkret yang memastikan tidak ada lagi pasien yang dipingpong, dikecewakan, dan diperlakukan seolah bukan seperti manusia.
Pihaknya khusus direktur Rumah Sakit Harapan Bunda agar meminta manajemen agar kinerja yang ada di bagaian pemerima pasien ruang utama di tata kembali sesuai aturan yang berlaku di RS Harapan Bunda.” Tutup IN kecewa. ( R/OpuNg)


