Foto : Ist- Tapak terlihat barang tangkapan berupa balpres sedang diamankan petugas beserta tiga unit lori.- R/ Dok : Indralis – OpuNk
Batam. — ( BATAM Ecpose.Com). ——— !! Penggerebekan balpres di Sagulung pada Sabtu (9/11) yang menyita dua kontainer dan tiga lori ternyata hanyalah “kulit luarnya” saja.
Di balik operasi itu, terendus dugaan permainan jauh lebih besar—permainan yang diduga dikendalikan oleh figur yang punya kekuasaan politik, akses, dan jaringan yang tidak dimiliki orang biasa. Rabu (12/11).
Di lokasi penggerebekan, sebuah bisikan pekerja meledak seperti bom waktu:
“Ini punya ketua IS.”
Bisikan itu bukan sekadar desas-desus. Itu adalah suara spontan dari orang yang berada tepat di tengah aktivitas bongkar muat.
Dan ketika inisial itu muncul—yang merujuk kepada seorang ketua partai sekaligus anggota dewan Kepri—atmosfer di lapangan mendadak berubah.
Nama itu berputar cepat di antara wartawan, petugas, dan masyarakat yang menyaksikan.
Pertanyaannya: mengapa seorang pekerja bisa begitu yakin menyebut nama politisi itu?
Sumber investigatif menyebut, jaringan balpres di Batam sudah lama beroperasi seperti kelompok yang kebal hukum.
Mereka bergerak dengan pola yang hampir mustahil dilakukan tanpa proteksi kuat:
kontainer masuk lewat jalur resmi tanpa hambatan,
bongkar muat dilakukan pada jam tertentu yang entah siapa yang mengatur,
dan setiap razia selalu berakhir pada “orang kecil” — sementara aktor di atas tidak pernah tersentuh.
Dugaan bahwa jaringan ini memiliki backing politik tingkat tinggi semakin menguat.
Di lapangan, saksi menyebut adanya instruksi untuk tidak mengganggu aktivitas balpres pada jam-jam tertentu.
Bahkan disebut ada pihak yang memberi “kode-kode khusus” saat kontainer tertentu masuk pelabuhan.
Siapa yang memiliki pengaruh sebesar itu?
Publik tentu bisa menebak ke mana arah dugaan itu mengarah.
Nama IS kini berada tepat di tengah pusaran.
Namun hingga detik ini, ia memilih diam total.
Tidak ada bantahan.
Tidak ada klarifikasi.
Tidak ada penjelasan.
Hening.
Dalam dunia politik, diam bukan sekadar diam.
Diam bisa berarti banyak hal.
Sementara itu, aparat seolah berhenti bergerak. Pengumuman soal siapa pengendali jaringan belum keluar.
Tidak ada perkembangan signifikan.
Tidak ada penetapan tersangka baru.
Padahal barang bukti besar sudah di tangan.
Apakah aparat sedang menahan diri? Atau ada bayang-bayang kekuasaan yang membuat langkah mereka tersendat?
Jika benar ada politisi yang memakai jabatan sebagai tameng bisnis balpres, itu bukan lagi pelanggaran biasa.
Itu adalah penyalahgunaan kepercayaan publik, penyalahgunaan kekuasaan, dan penistaan terhadap integritas lembaga politik.
Publik kini menunggu:
Apakah aparat berani membongkar seluruh rantai sampai ke pucuknya?
Atau kasus ini kembali dikubur seperti banyak kasus besar lainnya—hanya menyentuh lapisan bawah, sementara yang di atas tetap melenggang?
Yang jelas, hari ini nama seorang politisi sudah disebut.
Dan ketika sebuah nama sudah terucap di lokasi kejadian, pertanyaan-pertanyaan besar tidak mungkin lagi ditahan.( R/ OpuNk)

